
Tulisan saya terdahulu sungguh meleset dari apa yang saya perkirakan, ya itulah politik, apa yang tampak dipermukaan bukanlah apa yang sebenarnya terjadi, istilah perdalangan, dalang nggak akan kehabisan lakon, apalagi yang menulis hanyalah seorang anak bangsa yang berusaha membaca peta perpolitikan dewasa ini yang semakin canggih. Setekah lama ditunggu-tunggu akhirnya SBY mengisyaratkan bahwa calon wapres dari kubu Partai Demokrat adalah Prof. DR. Budiono, Guberbur bank sentral. Sebagian masyarakat non partisan mengapresiasinya dengan baik, tetapi bagi partai politik pendukung koalisi Demokrat (PKS,PAN,PPP,PKB) bagai kebakaran jenggot, bagaimana tidak pernyataan SBY ini sungguh menohok mereka, sebagai partai politik pendukung koalisi mereka merasa tidak dianggap, apalagi Budiono bukanlah orang partai dari partai pendukung koalisi. Maka merekapun mengeluarkan statement bersama atau boleh dikatakan ancaman, jika SBY tetap memilih Budiono sebagai calon Wapresnya maka mereka akan meninggalkan koalisi dan membentuk koalisi baru plus partai Gerindra untuk mengajukan Capres-cawapres sendiri. Tentunya hal ini menarik untuk dicermati, paling tidak harapan untuk munculnya calon alternatif selain SBY, JK sangat mungkin terjadi. Menilik beberapa bulan yang lalu, Amien Rais pernah menawarkan suatu wacana capres Alternatif selain, SBY,Jk ataupun Megawati. Reaksi tentang pencawapresan Budiono ini beragam, tetapi tentunya yang menarik perhatian saya ialah pernyataan wakil ketua partai Golkar Agung Laksono, yang mengapresiasi rencana ini, seolah-olah terus mendorong wacana pencawapresan Budiono ditengah-tengah ancaman bubarnya koalisi demokrat. Sudah dapat ditebak betapa gembiranya kubu JK-WIN jika Pencawapresan Budiono ini benar terjadi. Paling tidak kekuatan koalisi tersebut akan berkurang cukup signifikan. Apalagi diperkirakan mesin politik keempat partai yang akan hengkang dengan sendirinya akan bekerja menggembosi pencapresan SBY-Budiono. Tetapi menariknya lagi wacana merapatnya PDIP ke Demokrat membuat Panggung Demokrasi kita semakin enak untuk ditonton. Benar pameo yang mengatakan , dalam dunia politik tak ada teman yang abadi, hanya kepentingan bersama saja yang dapat menyatukannya. (bersambung)


